Cerita dari Digul merupakan kumpulan tulisan karya para eka-Digulis. Mereka pernah dibuang sebagai tahanan politik semasa pemerintahan kolonial hindia-belanda. Berbagai cerita itu, yang sungguh-sungguh terjadi, mengisahkan suka-duka mereka dalam mempertahankan hidup di tanah buangan Digul, Papua Barat. Getir dan mengharukan.
Dapat dikatakan, perkembangan sastra saat ini relatif lebih lambat dibanding dengan produk budaya lainnya. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya faktor perkembangan teori sastra yang cenderung mandeg. Padahal, sastra sebagai produk budaya punya kecenderungan acceptable. Sastra sebagai dunia yang kompleks bisa didekati dari bidang teori manapun karena sastra adalah representasi kehid…
Ada buku WR Supratmang? Mau kutahu lengkapnya Indonesia Raya? Lidah perempuan kecil Mandar itu mengeja akhiran ‘N’ dengan ‘Ng’ Ada buku Radeng Ajeng Kartini Mau kutahu apa itu Habis Gelap Terbitlah Teran’ Lelaki kecil kurus mengeja ‘N’ dengan ‘Ng’ mengaji ‘Ng’ dengan ‘N’ Dihempas mentari, di goyang alunan ombak Anak-anak itu khusyuk membaca di geladak perahu…
Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku ke sebuah paragraf yang menguarkan bau tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk bertingkat yang hangat di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat. Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung. Ruang penuh raung. Segala kenang tertidur di dalam kening. Ketika akhirnya matamu mati, kita s…
Setiap Kita Adalah kata Ada yang sekadar menatap Ada yang sehati menetap - Kang Maman
Revolusi Kebudayaan Tiongkok memakan banyak korban, termasuk profesor fisika ayah mahasiswi Ye Wenjie. Ye lantas terseret prahara zaman sampai akhirnya terlibat proyek rahasia pemerintah di Pangkalan Pantai Merah. Di tengah kepahitan hidup, Ye lantas mendapatkan sarana untuk mendengar-dan berteriak-ke antariksa... Lebih daripada empat puluh tahun kemudian, karya Ye terhubung dengan sejumlah …
Tembakau yang telah ditanam sejak 1862 menjadikan tanah Deli daerah yang lebih maju daripada kota-kota lainnya. Bangunan-bangunan megah, pertokoan modern, bank, hotel, sekolah, dan lain-lain mewarnai jalan-jalan di Medan. Kota ini menggeliat menjadi sentra perdagangan terbesar di wilayah Sumatra; selain menjadi salah satu pusat seni pertunjukan, industri penerbitan majalah, surat kabar, komik, …
kau menggumam ketika bangun hari ini, Aku mendengarmu bercakap kepada batu itu, yang buta, yang semakin mengeras ketika berusaha menangkap kata-katamu Aku mendengarmu bercakap kepada batu itu tanpa menggunakan kosa-kata-Ku ketika hari tiba dan mengambil segala yang kauyakini milikmu kau memang tak merasa perlu tahu bahwa Aku bukan bagianmu, bukan milikmu, Sayang-Ku Su…
Pagi dikaruniai begitu banyak pintu dan kita disilakan masuk melewatinya kapan saja. Malam diberkahi begitu banyak gerbang dan kita digoda untuk membukanya dan keluar agar bisa ke Sana. Tidak diperlukan ketukan. Tidak diperlukan kunci. : Sungguh, tidak diperlukan selamat datang atau selamat tinggal. Pintu Sapardi Djoko Damono